Tampilkan postingan dengan label Tokoh. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Tokoh. Tampilkan semua postingan

Asy-syafi'i Menangis



(by : Salim A.Fillah)

Satu saat Asy syafi’i ditanya, mengapa hukuman bagi pezina sedemikian beratnya. Wajah asy syafi’ memerah, pipinya rona delima “karena”, jawabnya dengan mata menyala “zina adalah dosa yang bala’ akibatnya mengenai semesta, keluarganya, tetangganya, keturunannya hingga tikus di rumahnya dan semut di liangnya”

Ia ditanya lagi dan mengapa tentang pelaksanaan hukuman itu, Allah berkata, “Dan janganlah rasa ibamu pada mereka menghalangimu untuk menegakkan agama!” 

Asy syafi’i terdiam ia menunduk, ia menangis setelah sesak sesaat, ia berkata “karena zina seringkali datang dari cinta dan cinta selalu membuat kita iba dan syaithan datang untuk membuat kita lebih mengasihi manusia daripada mencintaiNya”

Ia ditanya lagi dan mengapa, Allah berfirman pula “Dan hendaklah pelaksanaan hukuman mereka disaksikan oleh sekumpulan orang-orang yang beriman.” bukankah untuk pembunuh, si murtad, pencuri Allah tak pernah mensyaratkan menjadikannya tontonan?

Janggut Asy syafi’i telah basah bahunya terguncang-guncang “agar menjadi pelajaran”

Ia terisak “agar menjadi pelajaran” ia tersedu “agar menjadi pelajaran” ia tergugu lalu ia bangkit dari duduknya matanya kembali menyala “karena ketahuilah oleh kalian, sesungguhnya zina adalah hutang, sungguh hutang dan salah seorang dalam nasab pelakunya pasti harus membayarnya!”

Kutulis dengan menangis, semoga menjadi pengingat yang terwaris.

Uwais, seorang pemuda langit yg taat pada ibunya

Uwais, seorang pemuda langit yg taat pada ibunya

Pada zaman Nabi Muhammad saw, ada seorang pemuda bernama Uwais Al-Qarni. Ia tinggal dinegeri Yaman. Uwais adalah seorang yang terkenal fakir, hidupnya sangat miskin. Uwais Al-Qarni adalah seorang anak yatim. Bapaknya sudah lama meninggal dunia. Ia hidup bersama ibunya yang telah tua lagi lumpuh. Bahkan, mata ibunya telah buta. Kecuali ibunya, Uwais tidak lagi mempunyai sanak family sama sekali.

Dalam kehidupannya sehari-hari, Uwais Al-Qarni bekerja mencari nafkah dengan menggembalakan domba-domba orang pada waktu siang hari. Upah yang diterimanya cukup buat nafkahnya dengan ibunya. Bila ada kelebihan, terkadang ia pergunakan untuk membantu tetangganya yang hidup miskin dan serba kekurangan seperti dia dan ibunya. Demikianlah pekerjaan Uwais Al-Qarni setiap hari.

Umar bin Abdul Azis dan Lilin Negara

Siapa yang tak kenal Umar bin Abdul Aziz. Sosok pemimpin adil, arif, lagi berilmu. Banyak kisah teladan yang beliau tinggalkan untuk para peniti kebenaran. Inilah kisah ringkasnya.

Suatu hari datanglah seorang utusan dari salah satu daerah kepada beliau. Utusan itu sampai di depan pintu Umar bin Abdul Aziz dalam keadaan malam menjelang. Setelah mengetuk pintu seorang penjaga menyambutnya. Utusan itu pun mengatakan, “Beritahu Amirul Mukminin bahwa yang datang adalah utusan gubernurnya.” Penjaga itu masuk untuk memberitahu Umar yang hampir saja berangkat tidur. Umar pun duduk dan berkata, “Ijinkan dia masuk.”

Utusan itu masuk, dan Umar memerintahkan untuk menyalakan lilin yang besar. Umar bertanya kepada utusan tersebut tentang keadaan penduduk kota, dan kaum muslimin di sana, bagaimana perilaku gubernur, bagaimana harga-harga, bagaimana dengan anak-anak, orang-orang muhajirin dan anshar, para ibnu sabil, orang-orang miskin. Apakah hak mereka sudah ditunaikan?Apakah ada yang mengadukan?

Wangi Harum Masyithah

Diriwayatkan dari Ibnu Abbas Radhiallahu ‘anhu dia berkata, Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Pada saat malam terjadinya Isra’ saya mencium bau harum, sayapun bertanya, “Ya Jibril, bau harum apakah ini?”


Jibril menjawab, “Ini adalah bau wangi wanita penyisir rambut putri Fir’aun (Masyithah) dan anak-anaknya.”
Saya bertanya, ”Bagaimana bisa demikian?”
Jibril bercerita, “Ketika dia menyisir rambut putri Fir’aun suatu hari, tiba-tiba sisirnya terjatuh. Dia mengambilnya dengan membaca ”Bismillah (dengan nama Allah).”
Putri Fir’aun berkata, “Hai, dengan nama bapakku?”
Masyithah berkata, “Bukan, Allah adalah Tuhanku dan Tuhanmu begitu juga Tuhan bapakmu.”

Putri Fir’aun bertanya, “Kalau begitu, kamu punya Tuhan selain ayahku?
Wanita tukang sisir itu menjawab, “Ya.”
Anak putri Fir'aun berkata, 'Akan aku laporkan pada ayahku.'
Wanita tukang sisir menjawab, 'Silahkan!'

Abu Bakar

Abu Bakar bernama lengkap Abdullah bin Abi Quhafah At-Taimy. Nama kecilnya adalah Abdul Ka’bah. Gelar “Abu Bakar” diberikan Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam setelah ia menikahkan Rasul dengan anak gadisnya, ‘Aisya, dan karena cepatnya ia masuk Islam. “Ash- Shiddiq” yang berarti “sangat membenarkan” adalah gelar yang diberikan kepadanya lantaran ia segera membenarkan Rasul dalam berbagai peristiwa, terutama peristiwa Isra’ dan Mi’raj.

Abu Bakar memiliki nama panggilan “Atiq (sang tampan)”, lantaran wajahnya yang tampan dan cakap orangnya. ‘Aisyah menerangkan karakter bapaknya, “Beliau berkulit putih, kurus, tipis kedua pipinya, kecil pinggang (sehingga kainnya selalu turun dari pinggangnya), wajah selalu berkeringat, hitam matanya, berkening lebar, tidak bisa bersahaja dan selalu mewarnai jenggotnya dengan memakai inai maupun katam.” Begitulah karakter phisiknya. Ada pun akhlaknya, beliau terkenal dengan kebaikan, keberanian, kokoh pendirian, selalu memiliki ide-ide yang cemerlang dalam keadaan genting, banyak toleransi, penyabar, memiliki azimah (kemauan keras), faqih, paling mengerti dengan garis keturunan Arab dan berita-berita mereka, sangat bertawakal kepada Allah dan yakin dengan segala janji-Nya, bersifat wara’ dan jauh dari segala yang syubhat, zuhud terhadap dunia, selalu mengharapkan apa-apa yang lebih baik di sisi ALLAH, serta lembut dan ramah, Quraisy yang supel dalam bergaul, disukai dan diterima, seorang pebisnis, dan berbudi pekerti yang baik, semoga ALLAH meridhainya.

UBAY BIN KA'AB (RASUL MENGAGUMI ILMUNYA)

Nama lengkapnya Ubay bin Ka’ab bin Qis bin ‘Ubaid al-Anshory al-Khazrojy. Beliau adalah Sayyid al-Qurr’o (pemimpin para pembaca al-Qur’an). Biasa dipanggil Abu Thufail.

Rasulullah memberikan panggilan Abu Mundzir (bapak pemberi peringatan). Badannya tidak gemuk dan pendek. Meski demikian beliau sangat disegani di kalangan para sahabat. Dibesarkan di Madinah. Waktunya digunakan untuk bertadabbur dan berkontemplasi dengan alam. Sehingga jarang nampak dalam kerumunan orang. Lebih memilih untuk menyendiri dan menjauhi keramaian sebagaimana biasa orang lakukan. Untuk tujuan itu beliau belajar membaca dan menulis. Kononnya sebelum Rasulullah diutus, beliau bercibaku dengan kepingan-kepingan tulisan kitab Taurat yang didapat dari orang-orang Yahudi yang tinggal bertetangga. Meski demikian beliau tidak terpengaruh dengan pemikiran Yahudi. Bahkan dari apa yang dibaca tidak menemukan jawaban atas apa yang dipikirkan.

Khaulah Binti Tsa'labah (Wanita Yang AduannyaDidengar Allah Dari Langit Ketujuh)

Khaulah Binti Tsâlabah (Wanita Yang AduannyaDidengar Allah Dari Langit Ketujuh) Beliau adalah Khaulah binti Tsa`labah bin Ashrambin Fahar bin Tsa`labah Ghanam bin ‘Auf. Beliau tumbuh sebagai wanitayang fasih dan pandai. Beliau dinikahi oleh Aus bin Shamit bin Qais,saudara dari Ubadah bin Shamit r.a yang beliau menyertai perang Badardan perang Uhud dan mengikuti seluruh perperangan yang disertaiRasulullah saw. Dengan Aus inilah beliau melahirkan anak laki-lakiyang bernama Rabi`.

Khaulah binti Tsa`labah mendapati suaminya Aus bin Shamit dalammasalah yang membuat Aus marah, dia berkata, Bagiku engkau iniseperti punggung ibuku. Kemudian Aus keluar setelah mengatakankalimat tersebut dan duduk bersama orang-orang beberapa lama lalu diamasuk dan menginginkan Khaulah. Akan tetapi kesadaran hati dankehalusan perasaan Khaulah membuatnya menolak hingga jelas hukum Allahterhadap kejadian yang baru pertama kali terjadi dalam sejarah Islam.Khaulah berkata, Tidak…jangan! Demi yang jiwa Khaulah berada ditangan-Nya, engkau tidak boleh menjamahku karena engkau telahmengatakan sesuatu yang telah engkau ucapkankan terhadapku sehinggaAllah dan Rasul-Nya lah yang memutuskan hukum tentang peristiwa yangmenimpa kita.

PINTU TAUBAT SELALU TERBUKA (Malik Bin Dinar)

Sejak dini, aku hidup sebagai pemabuk, tersesat dan ahli maksiat. Menzalimi manusia, merampas harta orang lain, makan riba dan bahkan menggebuki orang adalah pekerjaan harianku. Tak ada hari dalam hidupku tanpa berbuat zalim terhadap manusia.Nyaris semua bentuk maksiat pernah aku lakukan.. Bahkan terkadang orang-orang yang tinggal di sekitarku ngeri mendegar namaku...

Aku ingin menikah
Pada suatu hari, aku sangat ingin menikah karena merindukan punya anak yang akan menghibur kehidupanku yang amat keras itu. Lalu, aku menikahi seorang gadis di kotaku (Baghdad)dan setelah hampir setahun istrikupun melahirkan seorang bayi perempuan yang amat mungil lagi cantik. Bayi itu ku berinama"Fatimah".

Kisah Siti Fatimah Radhiallahu 'Anha

Gembira hatinya, gembiralah Rasulullah s. a. w. Tertitis air matanya, berdukalah baginda. Dialah satu-satunya puteri yang paling dikasihi oleh junjungan Rasul selepas kewafatan isterinya yang paling dicintai, Siti Khadijah. Itulah Siti Fatimah r. a., wanita terkemuka di dunia dan penghuni syurga di akhirat.

Bersuamikan Sayyidina Ali bukanlah satu kebanggaan yang menjanjikan kekayaan harta. Ini adalah kerana Sayyidina Ali yang merupakan salah seorang daripada empat sahabat yang sangat rapat dengan Rasulullah s. a. w., merupakan kalangan sahabat yang sangat miskin berbanding dengan yang lain.

Namun jauh di sanubari Rasulullah s. a. w. tersimpan perasaan kasih dan sayang yang sangat mendalam terhadapnya. Rasulullah s. a. w. pernah bersabda kepada Sayyidina Ali,"Fatimah lebih kucintai daripada engkau, namun dalam pandanganku engkau lebih mulia daripada dia."(Riwayat Abu Hurairah)

Biografi Imam Bukhari

Pertumbuhan beliau

Nama: Muhammad bin Isma’il bin Ibrahim bin al Mughirah bin Bardizbah.

Kuniyah beliau: Abu Abdullah

Nasab beliau:

1. Al Ju’fi; nisabah Al Ju’fi adalah nisbah arabiyyah. Faktor penyebabnya adalah, bahwasanya al Mughirah kakek Bukhari yang kedua masuk Islam berkat bimbingan dari Al Yaman Al Ju’fi. Maka nisbah beliau kepada Al Ju’fi adalah nisbah perwalian
2. Al Bukhari; yang merupakan nisbah kepada negri Imam Bukhari lahir
Tanggal lahir: Beliau dilahirkan pada hari Jum’at setelah shalat Jum’at 13 Syawwal 194 H

Tempat lahir: Bukhara