Tampilkan postingan dengan label Keimanan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Keimanan. Tampilkan semua postingan

Nikmat Tuhan mana lagi yang akan kau dustakan?


Jikalau dunia ini memang kejam, lalu apa yang kau harapkan indah?
Jikalau dunia ini tidak adil, maka apa yang kau impikan untuk menjadi adil?
Apakah tak kau bayangkan..

Jikalau pagi tak pernah datang gulitalah dunia
Jikalau hujan tak pernah reda terendamlah bumi ini
Apakah tak kau pahami..

Dunia ini hanya titipanNya, jiakalau dunia ini seperti apa yang kau harapkan untuk apa adanya Dia? untuk apa kau diciptakan jika tidak untuk memeprjuangkanNya? jika tidak untuk menjaga apa milikNya? semua yang telah hadir sampai saat ini dirimu menghembuskan nafas hanya milikNya. patutkah kau meminta lebih jika kau tak berusaha memberikan yang lebih pula?

Nikmat Tuhan mana lagi yang akan kau dustakan?

7 Kalimat yang Disukai Allah



Jika kita mencintai seseorang, kita akan sering mengingatnya, menyebut-nyebut namanya bahkan ada yang rela melakukan apa saja demi yang dicintainya. Apakah temen-temen bener-bener cinta kepada Allah?.

Berikut ini 7 kalimat yang Allah sukai jika kita ungkapkan. 





  • Pertama adalah kalimat “Bismillaah” yang haruslah kita ucapkan pada tiap-tiap hendak melakukan sesuatu.
  • Kedua, kalimat “Alhamdulillaah” yang diucapkan pada tiap-tiap selesai melakukan sesuatu.
  • Ketiga, kalimat “Astaghfirullaah” yang diucapkan jika lidah terselip perkataan yang tidak patut atau ada tindakan kita yang tidak pantas.
  • Keempat, kalimat “Insyaa Allaah”, yang kita ucapkan jika merencanakan untuk berbuat sesuatu.
  • Kelima, kalimat ”Laa haula walaa quwwata illaa billaah”, yang diucapkan jika menghadapi sesutu yang tidak disukai maupun tidak diingini.
  • Keenam, kalimat “Inna lillaahi wa innaa ilaihi raaj’iun”, yang diucapkan jika menghadapi dan menerima musibah.
  • Ketujuh, kalimat “Laa ilaaha illallah ” yang diucapkan sepanjang siang dan malam, hingga tak terpisahkan dari lidah kita.

Karena Cinta



Masih ingatkah dibenakmu tentang laila dan qais atau yang kamu kenal dengan sebutan laila majnun dengan segudang ke’gilaan’ yang diperbuat Qais, itu semua karena makhluk yang bernama cinta.

Atau masih ingatkah dengan kisah Taj Mahal dengan segala kemahalannya hanya untuk kecintaannya pada sang istri yang sudah meninggal. Semua itu dilakukan karena makhluk bernama cinta.

Kisah yang tak mungkin terlupakan sepanjang masa, kisah Nabi Yusuf  dan Zulaikha. Kamu pasti ingat bagaimana butanya Zulaikha ketika melihat ketampanan Nabi Yusuf, dan ini semua karena makhluk bernama cinta yang sudah membutakan akal Zulaikha.

Ya..semua karena makhluk yang bernama CINTA, buta, tuli, bahkan menjadi gila cinta pun bisa begitu mudah menjalar pada setiap orang. Cinta itu seharusnya membersihkan akal, melenyapkan kesedihan, menjadikan apa saja yang kamu peroleh dari yang kamu cintai adalah sebuah kenikmatan, tekad selalu tinggi, pergaulan akan lebih mulia.

Riya'



Syeikh Ibnu ‘Athaillah As-Sakandary

Syeikh Ibnu Ajibah al-Hasany dalam syarah Al-Hikam mengatakan, bahwa riya’ itu bermakna sebagai pencarian posisi di tengah publik, melalui amalnya yang saleh. Apakah amal itu terlihat jelas atau tersembunyi.

Bahkan riya’ itu sering merasuki amal-amal yang tersembunyi, ketika tak seorang pun memandang anda. Dan ini sangat sulit, karena lebih rumit dibanding lubang semut.

Sebagian kaum ‘arifin menegaskan, “Aku berusaha membuang riya’ dalam hatiku dalam setiap rekayasa, dari berbagai arah, hingga saya meraih dari sisi lain yang tak pernah kuduga.”

Sebagian mengatakan, “Diantara riya’ paling besar adalah apabila seseorang memandang pemberian, penggagalan, bahaya dan manfaat itu datangnya dari makhluk.”

DEFINISI FITNAH DALAM AL QURAN ("Benarkah Fitnah Lebih Kejam dari Pembunuhan?")



Pengertian Fitnah
Kita sering mendengar istilah “Fitnah itu lebih kejam daripada pembunuhan”. Namun rupanya tidak banyak yang tahu darimana istilah ini berasal, dan apa makna sebenarnya dari kalimat tersebut. Pokoknya asal pakai saja, dan ngaku-ngaku itu ajaran Islam, karena kalimat tersebut ‘kelihatannya’ berasal dari Al Qur’an.

Dalam bahasa sehari-hari kata ‘fitnah’ diartikan sebagai penisbatan atau tuduhan suatu perbuatan kepada orang lain, dimana sebenarnya orang yang dituduh tersebut tidak melakukan perbuatan yang dituduhkan. Maka perilaku tersebut disebut memfitnah. Tapi apakah makna ‘fitnah’ yang dimaksud di dalam Al Qur’an itu seperti yang disebutkan itu?

Di dalam Al Qur’an surat Al Baqoroh (2) ayat 191 tercantum kalimat “Wal fitnatu asyaddu minal qotli….” yang artinya :

“Dan fitnah itu lebih sangat (dosanya) daripada pembunuhan..”.

Imam Ibnu Katsir menjelaskan, bahwa Imam Abul ‘Aliyah, Mujahid, Said bin Jubair, Ikrimah, Al Hasan, Qotadah, Ad Dhohak, dan Rabi’ ibn Anas mengartikan “Fitnah” ini dengan makna “Syirik”. Jadi Syirik itu lebih besar dosanya daripada pembunuhan.

Karenamu, Ya Rasulallah


Salim A. Fillah

Karena tentangmu Ya Rasulullah, ialah sebaik-baik kisah, seindah-indah cermin, semulia- mulia jalan, semurni-murni teladan. 

Karena pada dirimu Ya Rasulullah; sebening-bening hati, sejernih-jernih jiwa, sedalam-dalam ilmu, setepat-tepat fahaman.

Karena dalam tindakmu Ya Rasulullah; seikhlas-ikhlas niat, seihsan-ihsan amal, seteguh-teguh prinsip, sejelas-jelas ikutan.

Karena di tiap langkahmu Ya Rasulullah; seagung agung akhlaq, seluhur-luhur budi, segenap-genap syukur, seutuh-utuh sabar.

Karena pada senarai hela nafasmu Ya Rasulullah; ada sederu-deru dzikir, sesyahdu-syahdu khusyu’, setunduk-tunduk tawadhu’.

20 Sunnah Rasulullah Yang Sering Dilupakan



Sunnah adalah segala sesuatu yang diriwayatkan dari Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam baik perkataan, perbuatan, ataupun persetujuan. Sunnat pula berarti sesuatu yang pelakunya mendapat pahala dan tidak ada dosa bagi yang meninggalkannya. Di antara perbuatan sunnah yang jarang dilakukan kaum muslimin adalah sebagai berikut:

1. Mendahulukan Kaki Kanan Saat Memakai Sandal Dan Kaki Kiri Saat Melepasnya
Diriwayatkan dari Abu Hurairah Radhiyallahu Anhu bahwa Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda, “Jika kalian memakai sandal maka dahulukanlah kaki kanan, dan jika melepaskannya, maka dahulukanlah kaki kiri. Jika memakainya maka hendaklah memakai keduanya atau tidak memakai keduanya sama sekali.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim)

2. Menjaga Dan Memelihara Wudhu
Diriwayatkan dari Tsauban Radhiyallahu Anhu bahwa Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda, “Istiqamahlah (konsistenlah) kalian semua (dalam menjalankan perintah Allah) dan kalian tidak akan pernah dapat menghitung pahala yang akan Allah berikan. Ketahuilah bahwa sebaik-baik perbuatan adalah shalat, dan tidak ada yang selalu memelihara wudhunya kecuali seorang mukmin.” (HR. Ahmad dan Ibnu Majah)

Hasud (Penyakit Hati)



Hasud adalah rasa atau sikap tidak senang terhadap kehormatan (kenikmatan) yang diperoleh orang lain dan berusaha untuk menghilangkannya atau mencelakakan orang lain.

Dan janganlah kamu iri hati terhadap apa yg dikaruniakan ALLAH kpd sebagian kamu lebih byk dari sebagian lain. Krn bagi laki laki ada bagian dari apa yg mrk usahakan, & bagi para wanitapun ada bagian dari apa yg mrk usahakan” (QS 4:32)

Rasulullah bersabda,

Dengki itu memakan kebaikan sebagaimn api yang membakar kayu

Hasud itu iri terhadap orang lain, lalu diapun berusaha menjatuhkan kehormatan dengan berbagai cara seperti mengintai keburukannya, mempergunjingnya, menebar fitnah, sampai syirik kedukunpun dilakukan, bahkan sampai membunuh.

Hasud adalah penyakit hati yang membuat tubuhnya juga sakit, berasal dari cinta dunia, sombong merasa dirinya lebih hebat & sifat munafik karena cintanya pada dunia.

Ghibah



Ghibah adalah perbuatan haram dan termasuk dosa besar. Keharamannya disebutkan secara langsung dalam Al-Qur'an. Namun hampir setiap muslim pernah melakukannya. Padahal mungkin mereka tahu, seorang penggunjing diancam dengan siksa keras di sisi Allah, Allah menerangkan tentang haramnya ghibah,

وَلَا يَغْتَبْ بَعْضُكُمْ بَعْضًا أَيُحِبُّ أَحَدُكُمْ أَنْ يَأْكُلَ لَحْمَ أَخِيهِ مَيْتًا فَكَرِهْتُمُوهُ وَاتَّقُوا اللَّهَ إِنَّ اللَّهَ تَوَّابٌ رَحِيمٌ

"Dan janganlah sebahagian kamu menggunjing sebahagian yang lain.  Sukakah salah seorang di antara kamu memakan daging saudaranya yang sudah mati? Maka tentulah kamu merasa jijik kepadanya. Dan bertakwalah kepada Allah.  Sesungguhnya Allah Maha Penerima tobat lagi Maha Penyayang." (QS. Al-Hujuraat: 12)

Ibnu Katsir rahimahullah dalam menafsirkan ayat ghibah di atas mengatakan, "Ghibah (menggunjing) diharamkan menurut ijma'. Tidak ada pengecualian darinya kecuali jika ada mashlahat yang lebih, seperti dalam konteks jarh wa ta'dil dan nasihat."

Imam al-Qurthubi rahimahullah mengatakan, "Ijma' menyatakan bahwa ghibah termasuk salah satu dari dosa besar. Dan wajib bertaubat kepada Allah darinya."

Syirik



Syirik adalah menyamakan selain Allah dengan Allah pada perkara yang merupakan hak istimewa-Nya. Hak istimewa Allah seperti: Ibadah, mencipta, mengatur, memberi manfaat dan mudharat, membuat hukum dan syariat dan lain-lainnya.

Syirik Akbar
Syirik ini menjadi penyebab keluarnya seseorang dari agama Islam, dan orang yang bersangkutan jika meninggal dalam keadaan demikian, akan kekal di dalam neraka. Hakikat syirik akbar adalah memalingkan salah satu jenis ibadah kepada selain Allah! Seperti memohon dan taat kepada selain Allah, bernadzar untuk selain Allah, takut kepada mayat, kuburan, jin, setan disertai keyakinan bahwa hal-hal tersebut dapat memberi bahaya dan mudharat kepadanya, memohon perlindungan kepada selain Allah, seperti meminta perlindungan kepada jin dan orang yang sudah mati, mengharapkan sesuatu yang tidak dapat diwujudkan kecuali oleh Allah, seperti meminta hujan kepada pawang, meminta penyembuhan kepada dukun dengan keyakinan bahwa dukun itulah yang menyembuhkannya, mengaku mengetahui perkara ghaib, menyembelih hewan kurban yang ditujukan untuk selain Allah.

Namimah (Adu Domba)



Berbicara mengenai bahaya lisan memang tidak ada habisnya. Lisan, hanya ada satu di tubuh, tapi betapa besar bahaya yang ditimbulkan olehnya jika sang pemilik tak bisa menjaganya dengan baik. Ada pepatah yang mengatakan “mulutmu adalah harimaumu”, ini menunjukkan betapa bahayanya lisan ketika kita tidak menjaganya, sedangkan pepatah jawa mengatakan ajining diri ono ing lati, yang maknanya bahwa nilai seseorang ada pada lisannya, nilainya akan baik jika lisannya baik, atau sebaliknya.

Bahkan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memberi jaminan surga pada seorang muslim yang dapat menjamin lisannya. Dari Sahal bin Sa’ad radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Barangsiapa menjamin untukku apa yang ada di antara kedua dagunya (lisan) dan apa yang ada di antara kedua kakinya (kemaluan/farji), maka aku akan menjamin untuknya surga.” (HR. Al-Bukhari)

Salah satu bentuk kejahatan lisan adalah namimah (adu domba). Kata adu domba identik dengan kebencian dan permusuhan. Sebagian dari kita yang mengetahui bahaya namimah mungkin akan mengatakan, “Ah, saya tidak mungkin berbuat demikian…” Tapi jika kita tak benar-benar menjaganya ia bisa mudah tergelincir. Apalagi ketika rasa benci dan hasad (dengki) telah memenuhi hati. Atau meski bisa menjaga lisan dari namimah, akan tetapi tidak kita sadari bahwa terkadang kita terpengaruh oleh namimah yang dilakukan seseorang. Oleh karena itu kita benar-benar harus mengenal apakah itu namimah.

Munafik



Hati yang sakit biasanya dimiliki oleh orang munafik, mereka menyatakan beriman tapi sekadar di lisan, mereka laksanakan kebaikan  termasuk shalat tapi maksudnya adalah untuk mendapatkan pujian orang, karena itu mereka tidak merasakan nikmatnya beribadah dan berbuat baik. Allah SWT berfirman:

وَمِنَ النَّاسِ مَن يَقُولُ آمَنَّا بِاللّهِ وَبِالْيَوْمِ الآخِرِ وَمَا هُم بِمُؤْمِنِينَ. يُخَادِعُونَ اللّهَ وَالَّذِينَ آمَنُوا وَمَا يَخْدَعُونَ إِلاَّ أَنفُسَهُم وَمَا يَشْعُرُونَ. فِي قُلُوبِهِم مَّرَضٌ فَزَادَهُمُ اللّهُ مَرَضاً وَلَهُم عَذَابٌ أَلِيمٌ بِمَا كَانُوا يَكْذِبُونَ


Di antara manusia ada yang mengatakan: “Kami beriman kepada Allah dan Hari kemudian”, padahal mereka itu sesungguhnya bukan orang-orang yang beriman. Mereka hendak menipu Allah dan orang-orang yang beriman, pada hal mereka hanya menipu dirinya sendiri sedang mereka tidak sadar. Dalam hati mereka ada penyakit, lalu ditambah Allah penyakitnya; dan bagi mereka siksa yang pedih,disebabkan mereka berdusta. (QS Al-Baqarah:8-10)

Fasik



Fasik (al-fisq) berasal dari akar kata fasaqa-yafsiqu/yafsuqu-fisqan-fusûqan. Secara etimologis (bahasa), dalam ungkapan orang Arab, fasik (al-fisq) maknanya adalah keluar dari sesuatu (al-khurûj ‘an asy-syay’i) (al-Qurtubhi, Tafsîr al-Qurthubi, 1/246.), atau keluar (baca: menyimpang) dari perintah (al-khurûj ‘an al-amr). Dikatakan, misalnya, “Fasaqat ar-ruthbah (Kurma keluar),”— jika ia keluar dari kulitnya.” Dikatakan pula, misalnya, “Fasaqa Fulan mâlahu (Si Fulan mengeluarkan hartanya),”—jika ia menghabiskan atau membelanjakannya (ibnu Manzhur, Lisân al-‘Arab, 10/38).
  
Walhasil, secara etimologis (bahasa), fasik (al-fisq) maknanya adalah keluar (al-khurûj).
Sementara itu, secara terminologis (istilah), menurut al-Jurjani, orang fasik adalah orang yang  menyaksikan tetapi tidak meyakini dan melaksanakan (al-Jurjani, At-Ta’rîfât. I/211). Sedangkan al-Manzhur lebih lanjut menjelaskan bahwa fasik (al-fisq) bermakna maksiat, meninggalkan perintah Allah, dan menyimpang dari jalan yang benar. Fasik juga berarti menyimpang dari agama dan cenderung pada kemaksiatan; sebagaimana iblis melanggar (fasaqa) perintah Allah, yakni menyimpang dari ketaatan kepada-Nya. Allah Swt. berfirman:

فَفَسَقَ عَنْ أَمْرِ رَبِّهِ
Mereka kemudian berbuat fasik terhadap perintah Tuhannya. (QS al-Kahfi [18]: 50).

Dalam ayat di atas, frasa berbuat fasik terhadap perintah Tuhannya artinya keluar dari ketaatan kepada-Nya.