Bayangkan
gerak kesabaran itu sebagaimana sebuah pensil. Sebuah pensil akan sangat
berguna dan siap untuk digunakan ketika ujungnya senantiasa runcing.
Begitu
pula kesabaran dalam diri kita, akan selalu
siap menghadapi ujian dan akan selalu siap untuk
bergerak kembali memikul tanggung jawab ketika senantiasa diasah.
Bisa jadi ketika digunakan, pensil itu akan tumpul
atau mungkin patah karena terlalu keras. Tapi dia tidak akan cepat
patah
ketika digunakan perlahan, tidak cepat rusak jika digunakan dengan
hati-hati.
Begitu pula dengan kesabaran dalam diri kita. Kata "sabar" tidak berdiri sendiri sehingga mudah diungkapkan. Di dalamnya ada unsur perencanaan seperti arang yang sudah diformat sesuai panjang pensil, ada unsur kehati- hatian agar tidak lekas tumpul atau patah atau bahkan meruncingkan kembali. Karena kalau dalam meruncingkan tergesa-gesa, pada akhirnya bukan pensil yaig tajam yang didapat melainkan ketajaman dan cepat patah kembali. Ibarat manusia, bagi yang tergesa-gesa menuai hasilnya dia tidak akan mendapatkan buah yang optimal dari kesabar an tersebut.
Begitu pula dengan kesabaran dalam diri kita. Kata "sabar" tidak berdiri sendiri sehingga mudah diungkapkan. Di dalamnya ada unsur perencanaan seperti arang yang sudah diformat sesuai panjang pensil, ada unsur kehati- hatian agar tidak lekas tumpul atau patah atau bahkan meruncingkan kembali. Karena kalau dalam meruncingkan tergesa-gesa, pada akhirnya bukan pensil yaig tajam yang didapat melainkan ketajaman dan cepat patah kembali. Ibarat manusia, bagi yang tergesa-gesa menuai hasilnya dia tidak akan mendapatkan buah yang optimal dari kesabar an tersebut.




